Rabu, 22 April 2009

tik ... tok... tik... tok... tik.. tok...

ketika waktu adalah satu yang kita tak punya
saat seorang teman mengulurkan tangannya tak berdaya di ujung sana
bagaimana gerangan kaki ini harus melangkah

saat hari tak bermentari mengkungkungmu untuk jumpa
hilang dayamu hentikan derai dukanya
karna yang dicintanya terkapar meradang

Ya Rabb, buatkan aku waktu dan kesempatan
untuk jumpa dia yang di ujung sana
kan kuulurkan tanganku untuk menggapainya
dengan niat tulus ingin redakan gundah gulananya

... semoga tak ada rasa ragu yang menyelusup tak ada urusan


Senin, 13 April 2009

maafkan kakuku

maafkan aku
dengan kakuku
dengan maluku
aku tak maksud buat kau kesal begitu
kau sendiri buatku terpaku
telan aku bulat-bulat dalam pesonamu

maafkan kakuku
aku sendiri tak tau
lidahku bisu untuk menyapa
tanganku kaku saat memegang pena
pikirku terlalu banyak dipenuhi hal hal yang terlalu jauh...
sehingga kadang sulit.. menjalani apa yang ada di depan mata

mungkin...
sedikit ada cemasku
sedikit ada bimbangku
sedikit ada takutku
relakah aku titipkan hatiku... yang tidak lagi baru

kuserahkan saja semua pada PenciptaKu
akankah Dia melumasi lidahku
akankah Dia menurunkan tinta ke penaku
ketika ingin sesekali ku sapa kau
ketika ingin sesekali berbagi denganmu

bisakahkah kau bantu
bantu aku keluar dari kakuku
yang sama sekali tak perlu

dengan memberiku tunggumu

Sabtu, 11 April 2009

tak seberapa ...

kisah kita memang tak seberapa,
di sela- sela sibuk kita dulu
masih sempat senda gurau dan sapaan kita lakukan
tak tau kenapa tak kunjung kita beranjak dari hanya begitu
mungkin kita merasa tak perlu untuk melangkah
mungkin ada rasa yang lain yang memang lebih deras arusnya saat itu
tapi dengan hanya begitu pun,
ketika aku ingat hari jadimu,
kusempatkan untuk mampir di gift shop,
kubelikan mug yang tak seberapa,
kubungkus dengan kertas kado sisa mama di rumah
kuberikan padamu tanpa basa basi pula,
tak ada candle light dinner
tak ada skenario surprise-surprise segala
karena, kita pun hanya berkutat pada sapaan dan senda gurau yang tak seberapa...
entah bagaimana rasamu, tapi sudah kutanya pada rasaku berkali-kali...
aku tau ada yang akan selalu membedakanmu dari teman-teman perempuanku yang lain, meski tak seberapa ...
kini...
sekian taun telah lampau...
seperti dahulu, kau undang aku ke rumahmu hanya untuk sedikit mencicipi masakanmu dan menyapa semua keluargamu
dan seperti lampau, aku sudah sangat terbiasa di rumahmu, terkadang seperti rumahku sendiri
ku pergi ke dapur untuk mengambil minum, ketika akan mengambil gelas di rak,
aku terkesiap beberapa saat, ada satu buah mug yang sudah agak lusuh, bertengger di sana, dengan ragu aku mengambilnya...
dan hampir saja mug itu lepas dari tanganku, ketika tiba- tiba ada suara yang tak asing sampai di kupingku...
"Biasanya mug yang lain, sebentar saja dipakai sudah pecah, tapi mug itu dari dulu awet, ga pecah-pecah...", kau berkata sambil berlalu.
Bagus... baguslah kau segera berlalu, karena bila kau sedikit saja lebih lama bertengger di belakangku, kau pasti bisa lihat, kupingku memerah, dan untung saja rona merah mukaku sedikit tersembunyi di balik jenggot dan kumis tipis yang beberapa tahun terakhir ini kubiarkan subur di wajahku. Dan tak seperti biasa, candaku yang biasanya mengalir menimpali guraumu, kali ini tak satu suku katapun keluar dari mulutku.
Bingung, tersipu, dag dig dug... beberapa saat ada semua di kepalaku.
Tapi ketika aku melihat istriku bersenda gurau akrab dengan adikmu, anakmu, dan suamimu, aku tau dan sepenuhnya menyadari, bahwa bingungku, tersipuku, dan dag dig dug ku hanya bisa berarti satu, itu hanya satu rasa yang tak seberapa...